Sabtu, 26 Juni 2021

SEDIKIT SAJA.


 

    Untuk yang bertanya darimana tumbuhnya bunga di bulan Juli, katakan pada mereka, bahwa kamu adalah angin gunung untukku, telah menyebar di setiap sudutku yang gersang dan menyenangkan hari-hariku yang lesu. Di sini, mungkin orang-orang harus berkumpul mengadiliku yang bahagia bersamamu tak berbagi.

 

Inilah jamannya. Ia yang dianggap cantik oleh orang tuanya. Tentu juga oleh orang-orang yang menyukainya. Dengan kekuatan yang tak kenal ampun, ia terus masuk, membuka pintu, dan mengubur semua hal, kecuali dirinya. Seperti sesuatu yang harus, maka lahirlah hari itu, yang baru. Apakah ia orang yang datang untukku?

Selain keturunan Batak-Jawa, ia juga keturunan Nabi Adam. Yang aku tahu, ia adalah manusia. Kupingnya dua, matanya dua dan bagus, hidungnya satu. Pokoknya cocok lah untuk menjadi penghuni bumi. Tangannya dua, kakinya juga. Dipakai untuk jalan. Bisa juga untuk menendang bola. Tapi ia tidak. Ia seorang perempuan, dan muda, lebih muda dariku. Belum lama, belum juga bertemu. Tapi ia pintar, dengan mudahnya menjinakkan aku. Selalu menempatkan aku pada rindu. Ia suka menghilang, lalu muncul lagi, lalu terus seperti itu. Tapi biarin. Aku tidak. Sepertinya tidak akan.

Aku menulis ini karena ingin. saat ia sedang tidak ingin. Aku tidak mau mengganggu. Tapi aku harus ada ketika dia ingin. Bahkan aku sampai lupa waktu ketika ngobrol dengannya. Suara dan wajahnya cukup baik. Tak ada sama sekali penyesalan sudah menggodaku selama ini. Biarin. Insya Allah, aku bisa menanganinya dengan senang

Aku selalu menunggu ia datang. Bagaimana bisa aku melayaninya di sebuah tempat yang indah, jika kemudian hal-hal yang darinya adalah palsu? Jika semua hal darinya itu adalah sesuatu yang akan mengerikan ketika aku sedang sunyi?

Ah, sudahlah. Yang jelas aku tahu, matanya bagus dan berkata “ Dunia akan lebih membutuhkan diriku untuk bahagia, seperti kamu membutuhkanku”.

Jumat, 21 September 2018

Pakis Binaiya (Chyathea Binayana)


Tumbuhan paku-pakuan mempunyai peranan penting dalam ekosistem hutan dan manusia. Dalam ekosistem hutan, paku-pakuan berperan dalam pembentukan humus dan melindungi tanah dari erosi, sedangkan untuk kehidupan manusia, tumbuhan paku-pakuan berpotensi sebagai sayur-sayuran, tanaman hias, bahan obat-obatan  tradisional dan kerajinan tangan.

Seram merupakan pulau yang kaya akan potensi sumber daya alamnya, khususnya flora dalam jumlah yang banyak dan sudah lama diketahui secara umum. Beberapa jenis dari tumbuhan-tumbuhan tersebut mempunyai penyebaran terbatas, diantaranya adalah tumbuhan paku (Pteridophitha).
Taman Nasional Manusela mempunyai salah satu fungsi sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman flora di Pulau Seram, termasuk dalam hal ini adalah pengawetan jenis tumbuhan Pakis Binaiya (Chyathea Binayana) merupakan jenis paku-pakuan endemik Pulau Seram yang habitatnya berada di sekitar Puncak Binaiya. Altitude terendah habitat jenis ini berada pada ketinggian 2.600 mdpl.
Bentuk tumbuhan paku jenis ini hampir menyerupai pohon kelapa, sehingga mudah dibedakan dengan jenis paku lainnya. Pada batang bagian atas hanya terdapat lekukan dangkal bekas tangkai daun melekat. Tinggi batang Pakis Binaiya bisa mencapai 10 - 12 meter dengan tekstur batang yang kasar dan sangat keras, hingga tak jarang melihat pakis yang telah mati namun batangnya tetap berdiri tegak dan kokoh.
Analisis terhadap populasi Pakis Binaiya (Chyathea Binayana) dilakukan dengan mengklasifikasi habitat berdasarkan perbedaan ketinggian (altitude). Altitude terendah dari habitat jenis ini berada pada ketinggian 2.600 mdpl dan tertinggi berada pada ketinggian 3,000 mdpl. Sehingga klasifikasi altitude dilakukan untuk setiap kenaikan 100 mdpl.
Dari hasil pengamatan di lapangan, kerapatan (Ind/Ha) di beberapa altitude, Pakis Binaiya (Chyathea Binayana) pada ketinggian 2.600 – 2.700 mdpl memiliki jumlah populasi yang lebih kecil dibandingkan dengan level di atasnya. Karena pada level ini kondisi habitat lebih banyak tumbuh di daerah lembah. Dari kondisi seperti itu dapat diketahui bahwa Pakis Binaiya (Chyathea Binayana) kurang menyukai habitat dengan lapisan tanah tebal, yang mana dengan kondisi tersebut banyak ditumbuhi jenis pohon berkayu besar yang  memungkinkan ruang tumbuh akan didominasi oleh jenis pohon, sehingga Pakis Binaiya (Chyathea Binayana) cenderung kurang berkembang di habitat tersebut.

Pada ketinggian 2.700 – 3.000 mdpl menunjukan dugaan populasi Pakis Binaiya (Chyathea Binayana) yang cukup besar, khususnya pada ketinggian 2.800 – 2.900 mdpl. Pada range level tersebut habitat pakis berada di lereng Gunung Binaiya. Lereng yang cukup terjal dengan lapisan tanah yang tipis menjadi kondisi habitat yang disukai tumbuhan jenis ini dikarenakan sangat sedikit tumbuhan yang mampu tumbuh pada daerah tersebut. Tumbuhan lain yang mampu tumbuh hanya sampai tingkat perdu/semak yang tingginya lebih rendah jika dibandingkan dengan Pakis Binaiya (Chyathea Binayana). Sehingga pakis bisa tumbuh dominan di habitat yang ekstrim bagi tumbuhan lain. Inilan yang menjadi salah satu keunikan dari jenis endemik yang hanya dijumpai di sekitar lereng Gunung Binaiya.
Kondisi populasi Pakis Binaiya (Chyathea Binayana) dideskripsikan berdasarkan kondisi yang dijumpai selama kegiatan inventarisasi dilaksanakan, pada ketinggian 2.600 – 3.000 mdpl.
Berdasarkan hasil pengamatan oleh pihak Taman Nasional Manusela, pada bulan September 2013, jumlah anakan (tinggi kurang dari 1 meter) Pakis Binaiya (Chyathea Binayana) yang dijumpai pada petak ukur tergolong sangat sedikit. Dari 27 petak ukur yang ada, anakan jenis ini hanya dijumpai pada 5 petak ukur dengan jumlah 12 individu pada ketinggian 2.800 – 2.900 mdpl. Kondisi tersebut menggambarkan regenerasi Pakis Binaiya (Chyathea Binayana) memiliki jangka waktu yang cukup lama dan spora yang jatuh memiliki persentase tumbuh yang sangat kecil. Disamping itu, di lokasi inventarisasi banyak dijumpai Pakis Binaiya yang telah mati. Hampir disetiap petak ukur ditemukan individu yang mati. Jumlah terbesar dijumpai pada level ketinggian 2.600 – 2.700 mdpl. Hal ini dikarenakan pada ketinggian tersebut jenis tumbuhan ini banyak tumbuh di bawah naungan pohon tinggi dan besar.
Perlu dilakukan penelitian atau monitoring lebih lanjut yang dilakukan secara periodic minimal 5 tahun sekali, untuk mengetahui perkembangan populasi jenis ini yang regenerasinya tergolong sangat lambat. Diperlukan kerjasama dengan pihak lain untuk mengkaji aspek-aspek yang menjadi faktor utama perkembangbiakannya. Sebagai upaya preventif dalam mencegah kerusakan habitat Pakis Binaiya  (Chyathea Binayana) diperlukan penyebaran informasi dan edukasi bagi para pendaki Binaiya untuk tidak merusak dan memotong bagian dari tumbuhan endemik ini yang dapat menyebabkan kematian pada tumbuhan tersebut.

MEMBUAT BLOG DI SAMPING AKAR YANG TIDUR





Hari ini, jumat tanggal 21 September 2018 Masehi, Pukul 02.13 Waktu Indonesia bagian Barat, saya baru selesai membuat blog baru. Ditemani Akar yang sedang tidur di sebelahku, adik-adikku MHDP XIV yang masih sibuk mempersiapkan perlengkapan dan berbekalan pendakian perdananya ke Gunung Raung, disaksikan Malaikat Rakib dan Atid dan keramik depan sekretariat yang tadi siang tiba-tiba pecah.
Ya, itu saja. Tanganku masih pegal karena semalam bermain bulu tangkis bersama Pongo di parkiran kampus yang sudah kami anggap seperti gedung olahraga dengan lampu kuningnya yang redup. Sejak semua adik-adikku tidur, saya jadi sendiri, dan tidak sedih, tapi gembira, karena akhirnya blog ini jadi juga.

Segala puji bagi Allah.